(Learn : Syukurilah Rezeki)
>> Perhatikan underline, yang berarti rezeki yang kusyukuri.
Pagi yang cerah, aku terbangun di kamarku yang cukup dingin karena AC sudah kumatikan sejam setelah aku tidur semalam…
Ternyata laptopku masih menyala, laptop tua, Axioo SV100 pinjaman dari ortu yang mereka beli 2003, atau 5 tahun yang lalu itu, masih mendengungkan musik, barusan kudengar Foo Fighters – Walking After You. Irama lagu yang tenang, menginspirasi dan mengaitkan kehidupan cintaku… “If you walk out on me, I’m walking after you… bila kamu pergi, aku akan mengikutimu…”. Dave Grohl, mantan personel Nirvana yang jadi vokalis Foo Fighters itu cukup hebat meracik irama yang menenangkan pagiku…
Kubuka pintu depan rumahku, gorden, kunyalakan water pump, kumatikan lampu depan, dan kubuka jendela agar angin pagi segar bisa berhembus… kuhirup udara pagi ini begitu sejuk…
Kulihat sekeliling terasku, perumahan Panorama Bekasi yang masih kosong melompong, secara aku adalah penghuni pertama di blok A ini. Ya, rumah yang kubeli seharga 224.800.000 ini begitu bersih lingkungannya, rapi dan megah, rumah yang kubeli dengan hasil keringatku sendiri setelah bekerja 2 tahun 9 bulan di Pama, perusahaan yang ternyata adalah kontraktor pertambangan batubara terbesar di asia tenggara.
Karena hari ini adalah minggu, maka jadwal malas-malasanku adalah wajib hukumnya, haha… setelah aku pindah ke bekasi utara ini, setiap hari aku harus bangun jam 5.15, lalu mandi dan berangkat kerja jam 5.45, bila tidak sepagi itu, jalan akan macet luar biasa, karena ratusan ribu kendaraan akan memadati area cakung hingga pulogadung. Makanya hari sabtu minggu kumaksimalkan istirahatku… maksudnya, bangun siang..!
Kantorku ada di pulogadung, boleh percaya boleh nggak, perjalanan bila pagi antara 25-35 menit, bila di atas jam 6, langsung menjadi 35-45 menit, dan di atas jam 6.30, jadi 45-50 menit. Aku cukup beruntung mendapatkan rumah dengan jarak tempuh ke kantor yang relatif sebentar, malah bila sepi total, ditambah nyetir ala Rossi naek Satria F150 ku, 18 menit sampai! Orang tua dan teman-temanku ngga percaya hal itu… “Wah bagus tuh rock!, untuk ukuran jakarta itu sebentar banget”… kira-kira begitu celetukan mereka. Aku ingat temanku, Resa, yang tinggal di Depok, dia perjalanan 1,5 jam dari rumah… dan nyampe di kantor selalu telat barang 5-10 menit. Capek ah! Uda gitu di kantor sering ditegur karena jadwal datangnya yang rutin telat… Aku bersyukur ngga perlu seperti itu…
Kemarin temenku yang laen ada yang baru beli di perumahan ini juga, dan saat teken kontrak(akad kredit) pas pulang, dia mengalami hujan lebat luar biasa, dan jalur dari rumah Panorama ke kantor ada banjir di Cakung. Saat di kantor, dia cerita betapa menyesalnya dia telah mengambil rumah disana. Dia ungkapkan bahwa Tuhan seolah-olah menunjukkan bahwa dia salah pilih, karena kok pas persis setelah akad kredit, ditunjukkan bahwa jalur menuju kantornya kebanjiran.
Begitu heboh ceritanya hingga dibuat guyonan dan bahan tertawaan seisi kantor!
Aku dengar itu semua dan kutanyakan area mana yang banjir, kok seolah-olah dari ceritanya seluruh jalan menuju kantor banjir, dan rumahnya aja yang nggak. Padahal ternyata cuma sebagian area Cakung dan Taman Harapan Indah. Ya iyalah! Area itu emang langganan banjir dari dulu, lagian sekarang Jakarta mana yang ngga banjir? Kelapa Gading yang harga rumahnya milyaran malah kebanjiran masuk rumah kok! Masih mending perumahan Panorama ngga sama sekali, malah area jalan depan perumahan ngga banjir sama sekali. Ukuran banjir di Jakarta, kalo motor ato mobil ngga bisa lewat, baru disebut banjir! Nyatanya temanku itu masih bisa nyampe kantor…Terus terang aku jengkel dengan cerita temanku itu.
Kenapa? Karena daripada menyesal, justru mestinya ia bersyukur sudah bisa beli rumah!
Jarang-jarang anak semuda kita (aku 25, temenku 26), bisa beli rumah di usia segini, belum merit juga uda punya rumah tu hal yang istimewa, dan aku termasuk pelopor di kantor saat beli rumah di usia 25. Temen-temenku yang laen, yang usianya 2-3 tahun lebih tua, sedikit tertegun saat tahu aku sudah pindahan di rumah baru. Lalu mereka mulai nanya ini itu, mulai UM, cicilan, tempo, dan lain-lain… Loh baru kepikiran yah?! Kalo aku uda sejak lama nyari, karena aku tahu, rejeki mungkin ngga datang, mumpung masih punya rejeki, kita investasikan di tempat yang produktif! Bukannya beli mobil atau laptop belasan juta…. Hahaha…
Balik ke keluhan temanku, nyatanya hari-hariku disini bisa kulalui dengan nikmat, bahkan nyaman banget… Yah mungkin macet dan banjir (di cakung aja), tapi cuma itu aja kok! Kalau kita selalu mencari kekurangan yang ada, ya banyak! Namun kalau kita selalu mencari yang kelebihan, ya banyak juga!
Ya ampun, itu khan rezeki titipan Tuhan, agar kita bisa beribadah dengan khusyu’, makan dengan enak dan istirahat dengan nyaman. Aku yakin semua yang kita punya ini cuma titipan, agar kita bisa beramal, agar kita bisa menegakkan agama kita. Jangan sampai kita merasa Dia mengambil apa yang kita punya, karena sebenarnya kita ini ngga punya apa-apa! Apalagi bila tidak mensyukuri nikmat titipan-Nya, mungkin suatu saat Dia ngga mau memberi kita titipan lagi…
Suatu ungkapan klasik; “kau tak tahu apa yang kau punya hingga kau kehilangan hal itu…”
Aku tak mau ungkapan itu padaku, setiap hari aku berusaha ingat Dia yang memberiku begitu banyak kenikmatan, rezeki dan kehidupan. Aku tahu hidup ini hanya sekedar ujian bagiku, agar aku membenahi diri setiap hari, menghapus keburukan dan optimis melihat masa depan. Bila aku lulus ujian ini, cepat atau lambat Dia akan menjemputku, ke tempatNya yang lebih indah dan lebih layak daripada dunia.
Lagu berikutnya yang kudengar dari laptop adalah “Because of You” dari Keith Martin…
Aku tujukan “You” adalah Tuhanku, Allah SWT…
“Because of you, my life has change, thank you for the love and joy you bring, because of you, I feel no same, I’ll tell the world, it’s because of You…”
